Notification

×

Iklan

Iklan

Bamsoet: Prabowo Kembalikan RI ke Era Swasembada Beras, Seperti Saat Soeharto dan SBY"

Jumat, 09 Januari 2026 | 15.37 WIB Last Updated 2026-01-09T08:42:04Z


Jakarta -  INFO BS  :  Anggota Komisi III DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah berhasil membawa Indonesia kembali meraih prestasi swasembada beras, mengulang kemuliaan yang pernah diraih pada era kepemimpinan Presiden Soeharto tahun 1984 dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2008. Menurutnya, pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam sejarah ketahanan pangan nasional, sekaligus bukti bahwa komitmen politik yang kuat dapat diwujudkan menjadi hasil nyata dalam waktu yang relatif singkat.

 

“Kita telah menyaksikan sejarah berulang. Swasembada beras tahun 2025 patut dimaknai sebagai prestasi luar biasa karena diraih di tengah berbagai tantangan yang tidak mudah, mulai dari dinamika iklim hingga kompleksitas tata niaga komoditas pangan,” ujar Bamsoet dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

 

Sejauh ini, Indonesia telah tiga kali mencapai tonggak penting tersebut dalam sektor pangan strategis ini. Perjalanan menuju swasembada beras pertama kalinya dimulai pada era Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Pada tahun 1973, pemerintah meluncurkan gerakan “Revolusi Hijau” yang difokuskan pada peningkatan produktivitas pertanian, didukung oleh pembentukan Serikat Petani Indonesia dan program pembangunan berorientasi pada trilogi pembangunan (pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, dan stabilitas nasional). Hasilnya, pada tahun 1984, produksi beras nasional mencapai sekitar 27 juta ton, melampaui konsumsi nasional yang berkisar 25 juta ton. Prestasi ini bahkan membuat Indonesia mendapatkan penghargaan dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pada tahun berikutnya sebagai pengakuan atas kemajuan dalam ketahanan pangan.

 

Namun, setelah beberapa tahun, fokus kebijakan mulai bergeser ke arah industrialisasi, sehingga upaya menjaga swasembada beras tidak dapat dipertahankan secara berkelanjutan. Akibatnya, Indonesia kembali bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan beras nasional. Baru setelah 24 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2008 di era pemerintahan SBY, Indonesia kembali menyentuh target swasembada beras. Pemerintah saat itu menjalankan program revitalisasi sektor pertanian dengan tiga pilar utama: intensifikasi, ekstensifikasi, dan diversifikasi pangan. Meskipun beberapa pihak menyebutkan bahwa pencapaian tersebut hanya bersifat sementara, faktanya Indonesia pada tahun tersebut berhasil memenuhi kebutuhan beras dalam negeri tanpa perlu impor.

 

Kini, di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, prestasi serupa kembali diraih bahkan lebih cepat dari target yang dijanjikan. Saat pelantikan pada 20 Oktober 2024, Presiden Prabowo telah menegaskan komitmennya untuk mencapai swasembada pangan dalam waktu empat hingga lima tahun ke depan. Ia bahkan membentuk Kementerian Koordinator Bidang Pangan yang dipimpin oleh Zulkifli Hasan dan menunjuk Muhamad Mardiono sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan untuk mempercepat pelaksanaan program terkait.

 

“Target awal adalah empat tahun, tetapi melalui kebijakan konsolidasi, penguatan kapasitas petani, peningkatan produktivitas lahan, serta distribusi sarana produksi pertanian yang lebih terarah, swasembada beras berhasil tercapai hanya dalam satu tahun masa pemerintahan,” jelas Bamsoet.

 

Data menunjukkan bahwa produksi beras nasional sepanjang tahun 2025 mencapai sekitar 34,7 juta ton, melampaui kebutuhan nasional yang berada di kisaran 30 juta ton hingga 31 juta ton per tahun. Salah satu kunci keberhasilan ini adalah program ekspansi lahan pertanian yang dilakukan pemerintah, seperti mengubah lahan rawa dan tandus menjadi sawah produktif. Di beberapa wilayah seperti Sumatera Selatan, upaya ini bahkan mampu meningkatkan produksi beras hingga 25%. Selain itu, program kawasan sentra produksi pangan (food estate) yang dilanjutkan dan disempurnakan juga berkontribusi signifikan pada peningkatan volume produksi.

 

Bamsoet menambahkan bahwa keberhasilan dalam angka produksi harus segera diubah menjadi manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat. Ia menekankan bahwa harapan utama rakyat adalah stabilitas harga beras yang terjangkau, terutama bagi kelompok ekonomi lemah.

 

“Angka statistik yang mencengangkan tidak akan berarti jika tidak dirasakan oleh rakyat. Kita berharap bahwa kelimpahan beras dapat membawa dampak positif pada harga di pasar, sehingga beban ekonomi rumah tangga dapat berkurang,” katanya.

 

Sebelumnya, pada pertengahan tahun 2025, Presiden Prabowo telah menyampaikan bahwa stok beras nasional mencapai 3,7 juta ton, menjadi tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia. Ia juga menyatakan bahwa Indonesia sedang dalam jalur untuk tidak hanya mandiri dalam kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi “lumbung pangan dunia” yang mampu berkontribusi pada stabilitas pangan global.

 

Dalam menghadapi tantangan ke depan, Bamsoet mengingatkan pentingnya menjaga kelangsungan program yang telah terbukti efektif. Ia menekankan perlunya penataan infrastruktur pangan yang lebih baik, pendirian sistem lumbung pangan yang berkualitas, serta pemberdayaan koperasi petani untuk memastikan bahwa keberhasilan swasembada beras dapat bertahan dalam jangka panjang.

 

“Kita tidak boleh berhenti di sini. Kita perlu terus mengoptimalkan potensi sumber daya alam dan kapasitas manusia kita agar Indonesia tidak hanya menjadi negara yang mandiri dalam pangan, tetapi juga menjadi pemain utama dalam pasar komoditas pangan global,” pungkas Bamsoet. (sumber : ant)

 


×
Berita Terbaru Update