Notification

×

Iklan

Iklan

"10 Tahun Hubungan Jiangxi–Indonesia, Bamsoet Dorong Kerja Sama Naik Kelas dari Perdagangan ke Investasi dan Produksi."

Minggu, 13 September 2026 | 11.52 WIB Last Updated 2026-09-13T04:52:37Z

 Jakarta -  INFO BS  :   Memasuki satu dekade hubungan Jiangxi–Indonesia, Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Politik dan Keamanan KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet), mendorong agar hubungan ekonomi kedua pihak naik ke level yang lebih strategis.


Menurut Bamsoet, kerja sama tidak cukup hanya bertumpu pada jejaring bisnis dan transaksi perdagangan. Ke depan, hubungan ekonomi Indonesia dengan Provinsi Jiangxi, Tiongkok, perlu diarahkan pada business matching, investasi, kerja sama industri, penguatan rantai pasok, hingga penciptaan nilai tambah yang lebih besar bagi kedua negara.


“Besarnya impor dari Tiongkok menunjukkan kuatnya hubungan ekonomi sekaligus mengingatkan kita bahwa kerja sama harus semakin berkualitas. Kita ingin barang dari Jiangxi masuk ke Indonesia sebagai bagian dari proses produksi, sementara produk Indonesia juga semakin banyak menembus pasar Tiongkok,” ujar Bamsoet dalam acara 10th Anniversary and International Business Gala Dinner Perhimpunan Pengusaha Jiangxi Indonesia di Jakarta, Sabtu malam (12/9/2026).


Bamsoet menegaskan, orientasi hubungan ekonomi harus bergeser dari China sells to Indonesia menjadi China and Indonesia produce together in Indonesia. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya ditempatkan sebagai pasar, tetapi juga menjadi basis produksi yang mampu menghasilkan nilai tambah.


Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada 2025 ekspor Indonesia ke Tiongkok mencapai sekitar US$67,04 miliar. Sementara impor dari Tiongkok mencapai US$87,54 miliar. Kondisi tersebut membuat Indonesia mencatat defisit perdagangan sekitar US$20,50 miliar.


Bagi Bamsoet, angka tersebut sekaligus menunjukkan besarnya ruang untuk meningkatkan kualitas hubungan dagang dan investasi. Kerja sama harus diarahkan agar Indonesia mendapatkan manfaat lebih besar dari proses industrialisasi dan rantai pasok yang terbentuk.


Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 itu menyebut hubungan Indonesia–Tiongkok saat ini telah berkembang jauh melampaui perdagangan barang. Cakupannya meliputi investasi, infrastruktur, energi, industri, teknologi, ekonomi digital, pendidikan, kesehatan, pariwisata, pertanian, ekonomi hijau, kendaraan listrik, mineral strategis hingga pembangunan kawasan industri.


Khusus Jiangxi, Bamsoet melihat peluang besar karena kebutuhan Indonesia sejalan dengan kekuatan industri provinsi tersebut. Indonesia membutuhkan pembangunan jalan, pelabuhan, energi, kawasan industri, perumahan, transportasi dan infrastruktur digital. Sementara Jiangxi memiliki pengalaman dan basis industri di bidang konstruksi, manufaktur, engineering, material serta peralatan industri.


“Kita memiliki complementary economies, complementary resources, complementary markets dan complementary strengths. Indonesia membutuhkan modal, teknologi, mesin, engineering dan pengembangan industri, sementara Jiangxi memiliki kapasitas yang relevan,” katanya.


Ia mendorong agar kerja sama konkret diwujudkan melalui pembangunan pabrik, joint venture, penggunaan pemasok lokal, riset dan pengembangan, serta ekspor kembali produk ke pasar ASEAN.


Bamsoet juga menilai mineral strategis dan kendaraan listrik dapat menjadi sektor unggulan baru. Indonesia memiliki kekuatan pada nikel, mineral strategis, baterai dan ekosistem kendaraan listrik. Di sisi lain, Jiangxi memiliki basis manufaktur dan teknologi yang dapat dikembangkan untuk baterai, komponen kendaraan listrik, peralatan elektrik, advanced manufacturing dan teknologi hijau.


Namun, kerja sama tersebut harus dibangun dari hulu hingga hilir, mulai dari pengolahan sumber daya, manufaktur, penguasaan teknologi sampai ekspor.


Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini juga menekankan pentingnya investasi berkelanjutan dengan memperhatikan energi terbarukan, efisiensi energi, pengurangan emisi, pengelolaan limbah dan ekonomi sirkular.


“Indonesia terbuka terhadap investasi Jiangxi, tetapi investasi yang kita perlukan adalah investasi yang lebih berkualitas. Kita membutuhkan investasi yang menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ekspor, melakukan transfer teknologi, mengembangkan sumber daya manusia, menggunakan pemasok lokal, memperkuat industri nasional dan menjaga lingkungan,” pungkas Bamsoet.


Ia menegaskan prinsip kerja sama ke depan harus berlandaskan mutual benefit, rule of law, local value creation, sustainable development dan shared prosperity, sehingga hubungan Jiangxi–Indonesia selama dekade berikutnya mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas dan berkelanjutan.(sumber: Bamsoet.)



×
Berita Terbaru Update