Jakarta - INFO BS : Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia akibat konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, serta tekanan inflasi global, Indonesia justru mampu mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen. Capaian ini dinilai menjadi sinyal positif bahwa fondasi ekonomi nasional masih cukup kuat dan adaptif menghadapi berbagai tantangan eksternal.
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, mengungkap sejumlah faktor utama yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional tersebut. Menurutnya, capaian ini bukan terjadi secara kebetulan, melainkan hasil kombinasi kebijakan pemerintah yang fokus pada penguatan konsumsi domestik, investasi, pembangunan infrastruktur, serta perlindungan daya beli masyarakat.
Mukhtarudin menjelaskan bahwa belanja negara masih menjadi motor penggerak utama ekonomi nasional. Penyaluran anggaran pemerintah yang diarahkan pada program-program strategis dinilai mampu menjaga perputaran uang di masyarakat sekaligus mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor.
“Belanja negara berfungsi sebagai bantalan ekonomi saat kondisi global tidak stabil. Ketika ekspor menghadapi tekanan, konsumsi domestik dan intervensi fiskal pemerintah menjadi penyangga utama pertumbuhan,” ujar Mukhtarudin.
Ia juga menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menciptakan efek berganda terhadap ekonomi daerah. Program tersebut mendorong pergerakan sektor pangan, pertanian, distribusi logistik, hingga usaha mikro kecil dan menengah yang terlibat dalam rantai pasok.
Menurutnya, program MBG telah membuka ruang ekonomi baru di tingkat lokal karena melibatkan banyak pelaku usaha kecil, petani, hingga tenaga kerja pendukung. Hal ini menjadikan kebijakan sosial pemerintah sekaligus memiliki dampak ekonomi yang konkret.
Selain itu, Mukhtarudin menilai pembentukan Koperasi Desa Merah Putih menjadi titik pertumbuhan baru bagi ekonomi kerakyatan. Koperasi tersebut diproyeksikan mampu memperkuat basis ekonomi masyarakat desa, meningkatkan akses pembiayaan, serta memperluas pasar produk lokal.
“Koperasi Desa Merah Putih menjadi instrumen penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya terpusat di kota besar, tetapi juga menjangkau desa dan pelaku ekonomi akar rumput,” katanya.
Di sisi lain, sektor konstruksi juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Berlanjutnya pembangunan infrastruktur nasional disebut berkontribusi langsung terhadap pembukaan lapangan kerja baru, peningkatan permintaan bahan bangunan, serta tumbuhnya industri pendukung lainnya.
Pertumbuhan sektor konstruksi dinilai memberikan dampak luas karena menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Dengan demikian, pembangunan infrastruktur tidak hanya menghasilkan aset fisik, tetapi juga menjadi instrumen pengurangan pengangguran dan penguatan ekonomi masyarakat.
Mukhtarudin turut menekankan pentingnya stabilitas energi dalam menjaga daya beli masyarakat. Menurutnya, kebijakan pemerintah menjaga pasokan dan harga energi tetap terkendali memberikan kontribusi besar terhadap stabilitas harga kebutuhan pokok dan inflasi nasional.
“Ketahanan energi memiliki pengaruh langsung terhadap biaya produksi, transportasi, dan harga barang. Stabilitas ini penting agar masyarakat tetap memiliki daya beli yang terjaga,” ujarnya.
Selain faktor domestik, peningkatan investasi pemerintah dan swasta juga menjadi indikator kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia. Realisasi investasi yang terus tumbuh menunjukkan optimisme dunia usaha terhadap stabilitas ekonomi dan arah kebijakan nasional.
Mukhtarudin mengatakan investasi yang masuk ke berbagai sektor strategis seperti manufaktur, energi, hilirisasi, hingga digitalisasi akan semakin memperkuat struktur ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh berhenti pada angka statistik semata. Menurutnya, pertumbuhan harus benar-benar dirasakan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, penurunan kemiskinan, serta akses yang lebih baik terhadap layanan dasar.
“Pertumbuhan ekonomi yang sehat adalah pertumbuhan yang manfaatnya dirasakan langsung oleh rakyat. Pemerintah harus memastikan hasil pembangunan benar-benar meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Dengan kombinasi kebijakan fiskal yang ekspansif, penguatan ekonomi rakyat, investasi berkelanjutan, serta stabilitas sektor energi, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjaga momentum pertumbuhan positif di tengah tantangan ekonomi global yang masih dinamis.
Capaian pertumbuhan 5,61 persen tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa strategi pembangunan nasional yang berfokus pada keseimbangan antara pertumbuhan dan pemerataan mulai menunjukkan hasil yang semakin nyata.(sumber )
.jpg)