Oleh: Roan Gylberth, Wakil Koordinator Pokja Keanggotaan DPP Partai Golkar/Sekretaris SC Rapimnas MPO dan Semiloka Kecerdasan Artificial Partai Golkar/Praktisi AI
Jakarta - INFO BS : Hari ini, sebagian besar kehidupan kita berlangsung di layar ponsel. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2026 mencatat lebih dari 235 juta orang, atau 81,72 persen penduduk, sudah terhubung dengan internet. Di sanalah warga kini bekerja, belajar, berjualan, mencari kabar, dan juga membicarakan politik.
Gelombang perubahan berikutnya pun sudah tiba, yaitu kecerdasan artifisial atau AI. Teknologi ini mampu menulis, menerjemahkan, merangkum laporan, bahkan membuat gambar dan video dalam hitungan detik. Banyak pekerjaan yang dulu memerlukan satu tim selama berhari-hari kini dapat diselesaikan jauh lebih cepat.
Dampaknya terasa ke dua arah. Di satu sisi, AI membuka peluang: layanan publik bisa lebih cepat, usaha kecil bisa menjangkau pasar yang lebih luas, dan warga lebih mudah menyuarakan pendapatnya. Di sisi lain, AI juga mempermudah penyebaran hoaks, video palsu yang tampak meyakinkan, dan polarisasi yang memecah belah.
Selain itu, kita menghadapi kekurangan tenaga terampil. Kementerian Komunikasi dan Digital memproyeksikan Indonesia membutuhkan sekitar 12 juta talenta digital pada 2030, dengan kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan yang diperkirakan mencapai hampir 3 juta orang. Pemerintah pun tengah menuntaskan aturan tentang peta jalan dan etika AI, dengan tujuan menciptakan ekosistem kecerdasan artifisial yang etis, aman, dan bertanggung jawab.
Kemajuan teknologi ini tidak dapat dihindari oleh semua pihak, termasuk Partai Golkar. Ketua Umum Bahlil Lahadalia mengingatkan bahwa 73 persen pemilih pada Pemilu 2029 diperkirakan berusia 17 sampai 50 tahun, dan menegaskan bahwa kita sudah berada di era digital. Lalu, bagaimana Partai Golkar menyikapinya? Jawabannya berakar pada jati dirinya sendiri.
Karya Kekaryaan di Zaman Baru
Partai Golkar, kelanjutan Sekretariat Bersama Golongan Karya yang berdiri pada 20 Oktober 1964, berpegang pada doktrin Karya Siaga Gatra Praja. Doktrin ini memandang karya sebagai kegiatan kodrati manusia yang selalu membawa fungsi sosial, sehingga setiap karya harus berguna bagi sesama. Doktrin yang sama menegaskan bahwa cita-cita masyarakat adil dan makmur menuntut karya nyata yang terarah dan terus-menerus, sesuai kodrat manusia dan tuntutan perkembangan zaman.
Hari ini, tuntutan zaman itu adalah teknologi digital dan AI. Teknologi dapat mempercepat pekerjaan, tetapi karya tetap lahir dari manusia: dari niat untuk melayani dan kemauan memanfaatkan teknologi demi kebaikan bersama. Merapikan data, menghadirkan layanan yang mudah dijangkau warga, atau meluruskan hoaks adalah karya, sebab tidak ada karya yang hina atau rendah selama berguna bagi sesama manusia.
Karena doktrinnya hidup mengikuti zaman, visi Partai pun menatap jauh ke depan. Sebagaimana ditegaskan dalam Program Umum hasil Munas XI, visi Partai Golkar adalah:
Terwujudnya masyarakat Indonesia yang bersatu, berdaulat, maju, modern, damai, adil, makmur, beriman dan berakhlak mulia, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dan bermartabat dalam tata pergaulan dunia.
Frasa “menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi” bukan hiasan. Paradigma Baru menegaskannya lagi: masyarakat yang dicita-citakan Partai Golkar adalah masyarakat yang menguasai iptek, memiliki etos kerja dan semangat kekaryaan, serta disiplin yang tinggi. Program Umum lalu menurunkannya menjadi sasaran nyata, antara lain tata kelola partai yang modern, terbuka, dan akuntabel berbasis teknologi informasi. Visi sebesar ini menuntut manusia yang mampu menjalankannya.
Mempersiapkan Talenta Digital
Teknologi tanpa manusia yang cakap hanyalah alat. Karena itu, Partai Golkar mulai mempersiapkan talenta digital. Persiapan ini dimulai dari dalam, sebab ajakan agar masyarakat menguasai iptek baru akan meyakinkan bila Partai sendiri lebih dulu menjalankannya.
Talenta digital adalah orang-orang yang mampu memanfaatkan teknologi digital untuk menghasilkan karya, dan cakupannya luas. Ada pengelola media sosial dan pembuat konten yang setiap hari menyapa masyarakat, pelaku pemasaran digital (digital marketing) yang membantu produk dan gagasan menemukan pasarnya, serta desainer grafis dan penyunting video yang membuat pesan mudah dipahami.
Ada pula analis data yang membaca kecenderungan, pengembang aplikasi dan situs web, penjaga keamanan siber, hingga praktisi kecerdasan artifisial. Mereka bisa datang dari mana saja: mahasiswa, pekerja kreatif, pelaku UMKM yang berjualan daring, guru, aparatur, maupun kalangan profesional.
Bagi Partai Golkar, talenta digital adalah kader fungsional. Sejak awal, Golongan Karya mengamalkan karya dan kekaryaan atas dasar jenis kerja dan lingkungan kerja. Karena itu, Partai mengenal kader yang berkarya di lapangan pekerjaannya masing-masing, seperti petani, guru, nelayan, dan pelaku usaha, dan talenta digital adalah kader yang lapangan karyanya dunia digital.
Mereka membina sesama kader agar melek teknologi, menyerap dan menyalurkan aspirasi warga, serta meningkatkan mutu dan keahlian anggota di lingkungannya. Ada yang menjadi penggerak di setiap kepengurusan, termasuk Ormas Pendiri dan yang Didirikan serta Organisasi Sayap, ada pula yang menangani pekerjaan khusus seperti pengelolaan data, keamanan sistem, dan pemanfaatan AI.
Menjalankan Misi Partai Golkar
Talenta digital berperan mewujudkan misi Partai Golkar. Yang pertama adalah menegakkan, mengamankan, dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa demi memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di era AI, ancaman terhadap persatuan bisa datang dari layar ponsel: hoaks yang diproduksi secara massal, video palsu yang meniru wajah dan suara tokoh, hingga ujaran kebencian yang memecah belah. Talenta digital Partai Golkar menjawabnya dengan karya. Mereka memanfaatkan teknologi, termasuk AI, untuk membaca percakapan publik, mengenali hoaks lebih cepat, lalu meluruskannya dengan informasi yang jernih.
Mereka juga mengemas nilai Pancasila dan wawasan kebangsaan menjadi konten yang dekat dengan generasi muda, serta mengajak masyarakat cakap digital agar tidak mudah terprovokasi. Dengan cara itu, Partai Golkar hadir sebagai kekuatan penengah yang menyejukkan, bukan memanaskan.
Misi kedua adalah mewujudkan cita-cita Proklamasi melalui pelaksanaan pembangunan nasional di segala bidang untuk merealisasikan masyarakat yang demokratis dan berdaulat, sejahtera, adil dan makmur, menegakkan supremasi hukum dan menghormati hak asasi manusia, serta terwujudnya ketertiban dan perdamaian dunia.
Talenta digital mewujudkannya dengan membuat Partai makin dekat dan cepat tanggap kepada rakyat. Aspirasi warga yang masuk lewat kanal digital dihimpun dan dipetakan dengan bantuan data dan AI, lalu diperjuangkan oleh Fraksi Partai Golkar dan kader di pemerintahan, sejalan dengan semboyan “Suara Rakyat Suara Golkar”
.
Untuk kesejahteraan, talenta digital mendampingi pelaku UMKM, koperasi, petani, nelayan, dan pekerja agar mampu memanfaatkan pemasaran digital dan AI, serta membekali warga dengan keterampilan digital, karena doktrin kita memandang pengangguran sebagai hal yang tidak wajar. Dalam berdemokrasi, mereka ikut memastikan setiap suara rakyat dalam pemilu terkawal, sekaligus menghormati hak warga atas data pribadinya.
Misi ketiga adalah mewujudkan pemerintahan yang efektif dengan tata pemerintahan yang baik, bersih, berwibawa, dan demokratis. Talenta digital berperan dari dua sisi. Sebagai kader yang direkrut berdasarkan prestasi, mereka dapat mengisi jabatan publik dan mendorong layanan pemerintahan digital yang cepat, mudah, dan transparan.
Sebagai pendukung, mereka membekali kader di legislatif dan eksekutif dengan data dan kajian, misalnya memanfaatkan AI untuk menelaah regulasi atau membaca data anggaran, sehingga kebijakan berpijak pada fakta dan anggaran lebih mudah diawasi. Teladannya dimulai dari rumah sendiri, yaitu tata kelola Partai yang terbuka dan akuntabel berbasis data.
Mewujudkan Visi, Menghadirkan Karya
Pada akhirnya, kehadiran talenta digital adalah cara Partai Golkar mewujudkan cita-citanya sambil tetap setia pada jati dirinya. Karya kekaryaan tidak pernah terpaku pada satu bentuk. Dulu karya hadir di sawah, pabrik, sekolah, dan kantor pemerintahan. Kini karya juga hadir di layar ponsel, di balik data yang tertata, dan di dalam layanan digital yang memudahkan hidup warga.
Talenta digital membuat Partai makin dekat dengan rakyat: lebih cepat mendengar, lebih jernih menjelaskan, dan lebih tepat melayani. Dengan talenta yang tepat, teknologi tidak menjauhkan Partai dari rakyat, justru mendekatkannya. Inilah wajah Partai Golkar yang modern, mengakar, dan responsif. Pemilu 2029 akan menjadi ujian terdekatnya, dan kemenangan akan datang sebagai buah dari karya yang dirasakan langsung oleh rakyat.
Karena itu, mempersiapkan talenta digital adalah pekerjaan bersama seluruh keluarga besar Partai Golkar. Setiap kader dapat mengambil bagian sesuai kemampuannya, dari yang baru belajar hingga yang sudah ahli. Di era kecerdasan artifisial, berkarya berarti cakap membaca data, cakap memanfaatkan teknologi, dan yang terpenting, cakap mendengar rakyat. Teknologi akan terus berubah, tetapi ukuran Partai Golkar tetap sama: karya bagi rakyat, bangsa, dan negara. (sumber:gp)
