Catatan 23 Tahun Deklarasi Kosgoro 1957
( 8 Februari 2003- 8 Februari 2026)
Oleh: DR. M. Sabil Rachman
Sekretaris Jenderal PPK KOSGORO 1957 Masa Bakti 2021- 2026.
Pendahuluan
Deklarasi Kosgoro 1957 tanggal 8 Februari 2003 bukanlah sekedar deklarasi atau pernyataan biasa tetapi mengandung makna historis dengan orientasi yang melewati batas- batas kepentingan jangka pendek. Deklarasi tersebut memiliki makna sejarah dan politik yang sungguh luas untuk menegaskan bahwa Kosgoro pernah dan akan tetap hadir merawat potensi politik dalam menghadapi tantangan baru dan kompleks pasca orde Baru atau Era Reformasi.
Pada awalnya suasana dan dinamika masih seperti biasa bahwa Kosgoro selain sebagai pendiri Golkar juga adalah barisan orde baru dan juga diklaim sebagai tulang punggung Golkar bahkan menjadi mesin politiknya.
Posisi sebagai mesin politik selain menghadirkan energi dalam perjalanan panjang sejarah juga membawa implikasi politik ketika pada era reformasi dimana rezim Orde Baru dianggap bertanggungjawab terhadap kerusakan sebuah sistem, baik politik, hukum, ekonomi dan tata kelola pemerintahan secara umum serta kebijakan yang koruptif.
Berdasarkan pikiran tersebut maka Kosgoro juga dianggap harus ikut bertanggungjawab atas perjalanan rezim orde baru karena dinilai mendapatkan selain posisi politik juga mendapatkan sumber daya ekonomi yang sesungguhnya lazim pada saat itu (era orde baru) semua organisasi yang disebut sebagai organ negara orba mendapatkan fasilitas negara.
KONSISTENSI HISTORIS
Reformasi 1998 secara langsung membawa dampak terhadap upaya mempertahankan eksistensi Kosgoro agar tetap menjadi kekuatan penting Golkar ditengah riuhnya suara- suara internal agar Kosgoro segera mereposisi dirinya untuk menyesuaikan dengan dinamika yang tengah terjadi.
Kosgoro harus mampu melakukan adaptasi yang tepat agar ia tidak saja kehilangan peran sejarah tetapi juga justru merusak dan menghapus sejarah masa lalunya dengan Golkar. Dalam kerangka dan perspektif itulah maka pilihan jatuh pada sebuah ijtihad politik dalam menarik benang merah antara pihak yang hendak menyimpan dendam sejarah sekaligus menghapus sejarahnya berhadapan vis a vis dengan kelompok yang hendak meletakkan posisi historis yang berkelanjutan dan konsisten pada nilai fundamental.
Kelahiran Kosgoro 1957 tanggal 8 Februari 2003, lewat Deklarasi Ciputra( Hotel Ciputra tempat Deklarasi) sebagai kesinambungan yang tidak terpisahkan dari Kosgoro yang lahir pada 10 November 1957 adalah bentuk " perlawanan" terhadap ide yang hendak mematikan nilai- nilai historis atau pengingkaran terhadap sejarah bahwa Kosgoro adalah pendiri Golkar.
Diatas kesadaran itu maka tidak boleh penggiringan opini atas nama independensi yang bisa diarahkan kemana- mana atas kepentingan partai tertentu selain Golkar adalah bias sejarah. Hal tersebut akan berdampak pada seluruh kader dan anggota yang selain akan mengalami disorientasi juga jelas akan berprilaku ahistoris dengan meninggalkan akar sejarahnya bahkan kemudian bisa jadi apolitik dan tanpa idealisme ideologis yang jelas.
Hal ini merupakan problem sangat serius yang akan dihadapi oleh Kosgoro dan salah satu titik tempuh serta pengarah jalan dengan energi yang kuat adalah ikhtiar melahirkan transformasi kepemimpinan dengan komitmen serta visi besar yang akan jadi pemandu maka Mubes Kosgoro tahun 2000 di Hotel Indonesia bisa jadi forum yang straregis bagi pihak yang berfikir cerdas dalam menempatkan Kosgoro tetap eksis ditengah perubahan.
Kelompok penegas dan cerdas dalam.melihat arah Kosgoro untuk tetap konsisten dengan pijakan historis guna makin menguatkan relasi politik dengan Golkar sebagai wadah aspirasi tunggal dan rumah besar politik kader maka diperlukan figur kepemimpinan yang bisa mengarahkan tujuan dan idealisme perjuangan.
Atas pandangan tersebut maka kemudian solid bersatu mendukung Agung Laksono sebagai calon Ketua Umum dalam Musyawarah Besar tersebut. Agung Laksono dinilai bisa menjadi lokomotif dan penggerak utama yang memberikan semangat atas tujuan perubahan dan reformasi internal Kosgoro dalam Musyawarah Besar Kosgoro yang diadakan pertama kali sejak reformasi.
Namun alih- alih didukung penuh, Agung Laksono justru ditempatkan sebagai "musuh" bagi sebagian kader Kosgoro meski sudah mengabdikan diri di Kosgoro baik sebagai Sekretaris Jenderal era Ketua Umum Suprapto maupun sebagai penghubung penting dengan Golkar sebagai representasi Kosgoro yang selama ini membawa nama Kosgoro dalam forum- forum Golkar.
Mubes Kosgoro tahun 2000 adalah forum "terkeras" karena pertarungan tidak saja berdimensi kepentingan jangka panjang tetapi lebih bersifat ideologis dan strategis dalam memperjuangkan "nyawa" organisasi Kosgoro dalam hubungan dengan Golkar baik dalam perspektif historis maupun aspiratif.
Dinamika keras Mubes Kosgoro tahun 2000 seperti tercatat dalam sejarah menemui jalan buntu atau deadlock sebagai dampak dari ketiadaan titik temu baik tentang posisi Kosgoro pasca reformasi maupun pada pemilihan pucuk pimpinan.
Pertarungan para pendukung Agung Laksono dengan pendukung Hayono Isman yang demikian keras itu membuat pimpinan Mubes menawarkan opsi bahwa Mubes Hotel Indonesia akan dilanjutkan pada waktu dan tempat yang akan ditentukan kemudian guna menghindari perpecahan antar kader dalam Musyawarah Besar itu.
Opsi Mubes lanjutan disetujui oleh peserta Mubes tahun 2001 di Hotel Cempaka Jakarta Pusat. Pertarungan dua kubu yang pro tetap sejalan dengan Golkar dengan pro independen tetap sangat keras yang tercermin dalam pemilihan Calon Ketua Umum. (bersambung )
