Notification

×

Iklan

Iklan

Di Balik Angka 80,5 Persen: Bagi Melki–Jhoni Asadoma , Kepercayaan Publik Adalah Tanggung Jawab, Bukan Euforia

Minggu, 15 Februari 2026 | 12.09 WIB Last Updated 2026-02-15T05:09:29Z


 Jakarta  -  INFO BS  :  Hasil survei terbaru yang dipublikasikan media selatanindonesia.com menghadirkan satu angka yang menyita perhatian publik Nusa Tenggara Timur (NTT): 80,5 persen. Angka tersebut menjadi refleksi tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja kepemimpinan Melki Laka Lena bersama pasangannya Johanis Asadoma.


Namun, di balik capaian itu, tersimpan pesan yang lebih dalam. Bagi Melki–Johanis Asadoma , kepuasan publik bukanlah panggung selebrasi, melainkan amanah yang harus dijaga dengan kerja nyata dan konsisten.


Survei tersebut melibatkan 800 responden yang tersebar secara proporsional di 22 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur. Metode yang digunakan bersifat kuantitatif melalui wawancara tatap muka dengan kuesioner terstruktur. Teknik pengambilan sampel menggunakan multistage random sampling dengan margin of error ±3,47 persen. Secara metodologis, pendekatan ini dinilai dapat dipertanggungjawabkan dan memenuhi standar ilmiah.


Dalam forum pemaparan hasil survei, data dibentangkan secara terbuka, diperdebatkan secara kritis, dan dianalisis dari berbagai sudut pandang. Harapan publik pun disusun ulang berdasarkan temuan tersebut. Di ujung diskusi, angka 80,5 persen mengemuka sebagai indikator kuat adanya kepercayaan masyarakat terhadap arah kepemimpinan yang dijalankan.


Meski demikian, Melki Laka Lena menegaskan bahwa capaian tersebut bukan alasan untuk berpuas diri.


“Capaian 80,5 persen ini bukan untuk berpuas diri, tetapi menjadi energi dan tanggung jawab moral untuk bekerja lebih keras, lebih cepat, dan lebih tepat sasaran,” ujarnya.


Pernyataan itu menegaskan komitmen bahwa angka survei hanyalah instrumen evaluasi, bukan tujuan akhir. Kepercayaan publik harus dijawab dengan kebijakan yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat, terutama dalam sektor pelayanan dasar, penguatan ekonomi daerah, serta pembangunan infrastruktur yang merata.


Bagi Melki–Jhoni, legitimasi sejati tidak hanya diukur dari angka statistik, melainkan dari konsistensi menghadirkan solusi atas persoalan riil masyarakat. Survei menjadi cermin untuk melihat sejauh mana program berjalan efektif, sekaligus peta jalan untuk menyempurnakan kebijakan yang belum optimal.


Angka 80,5 persen itu pun dipahami sebagai mandat kolektif. Mandat untuk menjaga stabilitas, memperkuat kolaborasi dengan seluruh elemen masyarakat, serta memastikan setiap kebijakan berpihak pada kebutuhan rakyat.


Di tengah dinamika politik dan tantangan pembangunan daerah, hasil survei tersebut menjadi pengingat bahwa ekspektasi publik terus meningkat. Kepercayaan yang tinggi harus dijaga dengan integritas dan kerja terukur.


Karena itu, alih-alih merayakan angka, Melki–Jhoni memilih menjadikannya sebagai bahan bakar untuk mempercepat realisasi program. Bagi mereka, kepuasan publik adalah titipan yang menuntut keseriusan, bukan sekadar statistik yang layak dirayakan.(sumber : SI ) 


×
Berita Terbaru Update